Posts

Membayangkan Wiracarita Ernst Gombrich

Image
Pada zaman dahulu kala...  Mendengar kalimat itu, saya membayangkan guru ngaji semasa bocah dulu. Kalau sudah begitu, saya duduk manis sambil memasang kuping dengan baik. Cerita nabi menggelongsor, takjub.  Begitulah Ernst membuka cerita dalam bukunya, Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda.  Pada zaman dahulu kala...  Pada awal-awal buku ini, kamu boleh percaya boleh tidak. Tak ada paksaan. Sebelum zaman purba, ada zaman yang mendahuluinya, dan, manusia belum ada. Yah, manusia seperti kita ini, belum tercipta. Lalu, siapa makhluk yang menghuni zaman itu?  Masa itu diperkirakan lebih dari 150.000 tahun yang lalu. Kamu bisa bayangkan, belum ada lalu-lalang kendaraan. Bising. Polusi. Orang-orang tentu belum mengenal sistem e-tilang. Hanya ada hewan-hewan besar nan buas, yang hari ini sebagian orang menganggapnya mitos belaka. Dinosaurus.  Gunung-gunung belum muncul seperti sekarang, nanti menjulang setelah air laut menyusut. Hewan-hewan mulai bermuculan. Bekic...

Kisah Pemimpin yang Kuasanya Melebihi Sejauh Mata Memandang

Image
Wilayah kekuasaan Iskandar Zulakrnain Tentu kita pernah mendengar epos raja-raja adikuasa, menguasai tanah beserta yang tumbuh di atasnya. Sejauh mata memandang, begitulah ungkapannya. Para raja bisa memeperoleh melalui adu ketangkasan berburu, bertaruh atas tarung hewan peliharaan, hingga berbagai macam kebiasaan lainnya. Kita tarik ke belakang, kira-kira tahun 300 SM. Saat itu, Yunani hancur lebur, dalam arti yang sebenar-benarnya. Konflik antara Athena dan Sparta, tidak terhindarkan, berlangsung lama, kini kita mengenal peristiwa itu dengan sebutan Perang Peloponesia. Athena takluk, Sparta pemenangnya—tapi tak tahu harus berbuat apa atas kota taklukannya. Saking tak tahu mesti berbuat apa, suku-suku kecil dari Delfi menjarah dan menduduki Kuil Orakel, tempat suci Dewa Apollo yang masih merupakan wilayah Yunani. Orang Sparta berang, begitu pula dengan orang Athena, tapi mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka letih atas konflik berkepanjangan yang telah berlalu. Orang-...

Bola: Bermula Jumat, Berakhir Jumat

Image
Diambil dari laman: superwow.com Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya ada satu rutinitas, lepas sepulang sekolah, dua kali dalam seminggu: berburu tabloid Bola. Dulu Bola begitu laris, dibanding tabloid olahraga lainnya yang sejenis, semisal Soccer; atau yang tidak sejenis, semisal Otomotif. Kadangkala saya kehabisan. Stok pada masa itu sangat terbatas. Pada era tahun 90-an hingga memasuki babak milenial awal, Bola merupakan medium utama warta olahraga: khususnya sepakbola. Saya sendiri mengenangnya sebagai asupan informasi awal mengetahui perkembangan sepakbola di Eropa—khususnya Italia dan klub AC Milan. Dari Bola, saya bisa mengetahui jika Silvio Berlusconi, selain memimpin AC Milan, juga adalah seorang perdana menteri—pemimpin seantero Italia pada masanya. Selain itu, saya cukup tahu daerah-daerah—yang bukan hanya Roma saja karena tenar sebagai ibukota negara—wilayah utara dan selatan Italia yang tidak pernah akur dalam bidang politik cum sepakbola. Atau kl...

Soal Kebudayaan

Image
Diambil dari artdesign fb Sejauh yang saya pahami--sebagai manusia yang melekatkan budaya sebagai bagian yang tak lepas dari laku keseharian hidup manusia--arti dari "budaya" adalah sesuatu yang bisa dikontrol dan dikendalikan, diawasi bahkan sampai pada tahap yang bisa ditinjau ulang kembali.  Dalam kalimat pengantar W.S. Rendra untuk buku Thomas Paine, menyebutkan bahwa yang bisa dibudayakan adalah hal-hal yang bisa manusia kendalikan, yang lepas dari kontrol "alam".  Detak jantung, kerja fungsi hati, lambung, adalah organ yang tak bisa dikendalikan oleh manusia, dan sudah barang tentu tak bisa dibudayakan. Beda halnya dengan kepala, tangan, dan kaki, itu bisa difungsikan selama kontrol kendali kesadaran ada pada manusia. Kepala bisa mengangguk apabila setuju dengan hal-hal tertentu, sekaligus bisa menggeleng menolak hal-hal tertentu. Tangan bisa difungsikan baik dengan membantu sesama manusia, sekaligus bisa berbuat jahat jika diinginkan. Begitupun...

Mengakrabi Sungai Mandar [4]

Image
Di lokasi pameran FSM 5, kita bisa menemukan berbagai macam kreasi kuliner masyarakat setempat, tidak banyak ragamnya, tapi cukup membuat kita puas dengan aroma dan kelezatannya. Plang Pameran dan Pasar Kreatif FSM 5 Selain kuliner, kita juga bisa menemukan lapak jualan di titik lokasi yang lain, semisal lapakan baju, pernak-pernik dan hasil kerajinan tangan. Nah, khusus yang terakhir ini—kerajinan tangan—ada lapak yang paling banyak didatangi oleh pengunjung FSM 5. Apa yang menarik di sana? Lapak ini menyajikan beberapa miniatur seni rupa, dan hasil olah tangan dari bambu dan hasil alam lainnya. Lapak ini diberi nama Antrabes, di bawahnya ada tulisan Rutan Majene. Seluruh hasil kerajinan yang dipajang merupakan hasil kerja para narapidana yang berasal dari Rutan Majene. Saya kemudian teringat sesuatu.  Antrabes, sepertinya nama ini tidak asing! Saya teringat setahun lalu, sebuah acara literasi di Kabupaten Maros. Waktu itu, di suatu panggung musik, sekelompok orang ber...

Mengakrabi Sungai Mandar [3]

Image
"Hanya ada dua di dunia ini, yang nama sungainya sama dengan nama sukunya. Sungai dan Suku Mandar; serta di India dengan Sungai dan Suku Hindustan." Seperti itulah Abba' Lèlè mendeskripsikan Sungai Mandar yang membentang di hadapan saya. Raut wajahnya yang tidak lagi muda menegaskan sesuatu kepada saya, "ada nilai filosofi di balik pemberian nama sungai itu, dan mestinya ditelusuri makna di balik pemberian nama itu." Tuturnya. Abba' Lèlè, budayawan Mandar* Kemudian saya teringat sebuah bacaan, mengenai minuman beralkohol, yang juga hanya ada dua di dunia ini, nama minumannya sama dengan nama suku bangsanya: minuman  scotch  yang identik dengan bangsa Scotch (Skotlandia) dan minuman  bengal  untuk bangsa Bengali di India. Keduanya menggunakan identitas bangsa untuk minuman mereka, lebih dikarenakan nasionalisme kesukuan dalam diri mereka yang telah mengakar kuat. Mereka sama-sama menyukai dan bangga atas minuman keras mereka; dan sama-sama termarginal...

Mengakrabi Sungai Mandar [2]

Image
"Kamu sudah memutuskan mau pergi, pergilah!" Begitulah pesan Bunga pada Pangeran Cilik dalama kisah Le Petit Prince- nya Antoine de Saint-Exupéry. Pesan Bunga pada Pangeran Cilik bermakna perintah, berkelanalah dan lihatlah dunia ini lebih luas. Lebih luas dari tempatmu berdiam diri. Saya memasuki jalan desa meninggalkan jalan poros Tinambung. Jalan yang saya lewati sudah dibeton oleh pemerintah, menggantikan jalan beraspal yang mudah rusak. Tampak rumah-rumah berdampingan di sisi kiri-kanan jalan. Sepintas amatan saya, ada dua desa yang saya lewati sebelum sampai di Kecamatan Alu. Jalan beton hanya menemani saya sampai di desa ke dua, setelahnya jalan mulai beraspal, di awal masih mulus, tetapi semakin masuk ke dalam jalanan semakin rusak. Saya belum melihat sungai, tempat yang ingin saya tuju. Sepanjang jalan masih rumah penduduk dan belukar di beberapa tempat. Tebing-tebing menjulang di sisi kanan dan jurang di sisi kiri. Lereng terjal mulai saya temukan setelah melewa...