Posts

Mengakrabi Sungai Mandar [4]

Image
Di lokasi pameran FSM 5, kita bisa menemukan berbagai macam kreasi kuliner masyarakat setempat, tidak banyak ragamnya, tapi cukup membuat kita puas dengan aroma dan kelezatannya. Plang Pameran dan Pasar Kreatif FSM 5 Selain kuliner, kita juga bisa menemukan lapak jualan di titik lokasi yang lain, semisal lapakan baju, pernak-pernik dan hasil kerajinan tangan. Nah, khusus yang terakhir ini—kerajinan tangan—ada lapak yang paling banyak didatangi oleh pengunjung FSM 5. Apa yang menarik di sana? Lapak ini menyajikan beberapa miniatur seni rupa, dan hasil olah tangan dari bambu dan hasil alam lainnya. Lapak ini diberi nama Antrabes, di bawahnya ada tulisan Rutan Majene. Seluruh hasil kerajinan yang dipajang merupakan hasil kerja para narapidana yang berasal dari Rutan Majene. Saya kemudian teringat sesuatu.  Antrabes, sepertinya nama ini tidak asing! Saya teringat setahun lalu, sebuah acara literasi di Kabupaten Maros. Waktu itu, di suatu panggung musik, sekelompok orang ber...

Mengakrabi Sungai Mandar [3]

Image
"Hanya ada dua di dunia ini, yang nama sungainya sama dengan nama sukunya. Sungai dan Suku Mandar; serta di India dengan Sungai dan Suku Hindustan." Seperti itulah Abba' Lèlè mendeskripsikan Sungai Mandar yang membentang di hadapan saya. Raut wajahnya yang tidak lagi muda menegaskan sesuatu kepada saya, "ada nilai filosofi di balik pemberian nama sungai itu, dan mestinya ditelusuri makna di balik pemberian nama itu." Tuturnya. Abba' Lèlè, budayawan Mandar* Kemudian saya teringat sebuah bacaan, mengenai minuman beralkohol, yang juga hanya ada dua di dunia ini, nama minumannya sama dengan nama suku bangsanya: minuman  scotch  yang identik dengan bangsa Scotch (Skotlandia) dan minuman  bengal  untuk bangsa Bengali di India. Keduanya menggunakan identitas bangsa untuk minuman mereka, lebih dikarenakan nasionalisme kesukuan dalam diri mereka yang telah mengakar kuat. Mereka sama-sama menyukai dan bangga atas minuman keras mereka; dan sama-sama termarginal...

Mengakrabi Sungai Mandar [2]

Image
"Kamu sudah memutuskan mau pergi, pergilah!" Begitulah pesan Bunga pada Pangeran Cilik dalama kisah Le Petit Prince- nya Antoine de Saint-Exupéry. Pesan Bunga pada Pangeran Cilik bermakna perintah, berkelanalah dan lihatlah dunia ini lebih luas. Lebih luas dari tempatmu berdiam diri. Saya memasuki jalan desa meninggalkan jalan poros Tinambung. Jalan yang saya lewati sudah dibeton oleh pemerintah, menggantikan jalan beraspal yang mudah rusak. Tampak rumah-rumah berdampingan di sisi kiri-kanan jalan. Sepintas amatan saya, ada dua desa yang saya lewati sebelum sampai di Kecamatan Alu. Jalan beton hanya menemani saya sampai di desa ke dua, setelahnya jalan mulai beraspal, di awal masih mulus, tetapi semakin masuk ke dalam jalanan semakin rusak. Saya belum melihat sungai, tempat yang ingin saya tuju. Sepanjang jalan masih rumah penduduk dan belukar di beberapa tempat. Tebing-tebing menjulang di sisi kanan dan jurang di sisi kiri. Lereng terjal mulai saya temukan setelah melewa...

Mengakrabi Sungai Mandar [1]

Image
Pada dasarnya adalah bergerak. Bergeraklah! Seperti itulah pemantik Eric Weiner dalam bukunya The Geography of Genius.  Kalimat itu sedikit menyiksa, bagi seorang seperti saya yang suka berdiam diri di rumah. Saya biasa menghabiskan waktu di rumah, seputaran kamar tidur dan kamar mandi, selebihnya di ruang makan dan ruang keluarga. Buku itu, cukup banyak mengubah perilaku saya yang biasa berdiam diri di rumah. Wira-wiri ke sana ke mari. Saya biasanya lupa bahwa ada hal menarik di luar sana yang belum saya temui. Dan sangat sayang untuk dilewatkan. Beberapa tahun belakangan ini, saya mulai turun dan bergerak, yang dalam arti leksikalnya: beranjak. Tinggalkan hunian sementara waktu, dan melihat, apakah ada yang luput dari amatan saya selama ini? Meskipun kita ketahui bersama, sudah barang tentu ada yang luput. Plakat pengumuman Festival Sungai Mandar 5 di facebook Satu agenda penting yang saya temukan di laman facebook, sejak bulan lalu dibagikan oleh Muhammad Munir, se...

Kegeniusan di Kolkata

Image
National Geographic Sebelum India lepas dari cengkeraman orang Inggris, masyarakat di Kolkata—sebuah wilayah di India yang dihuni mayoritas Suku Bengali—diajari untuk membaca. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah Inggris, dengan maksud menuntaskan buta aksara di wilayah jajahannya. Penjajah Inggris percaya, orang-orang Kolkata jika telah pandai membaca, maka akan membantu pemerintahan, dan itu barang tentu memudahkan segala urusan penjajah. Namun, nasib berkata lain. Sebagian orang-orang Kolkata itu, yang telah mampu membaca, akhirnya lebih memilih menjadi penyair, ketimbang mengikuti arahan penjajah: menjadi pegawai. Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, terutama di Jawa, Belanda sebagai penjajah menyekolahkan para priayi (anak bangsawan pribumi) dengan tujuan: menciptakan ambtenaar atau pegawai pemerintahan. Namun, tidak semua anak priayi itu menjadi ambtenaar. Mas Tirto Adhi Soerjo misalnya, lebih memilih menjadi jurnalis ketimbang seorang dokter pemerintah Hindia. Antara ...

Kegeniusan di Athena

Image
greece.gr James Clerk Maxwell, seorang ahli fisika dari Skotlandia, menemukan suatu hubungan antara kesadaran akan ketidaktahuan dengan kreativitas. Menurutnya, semakin orang-orang memiliki kesadaran penuh akan ketidaktahuan, maka orang itu akan lebih mampu melakukan terobosan kreatif ketimbang orang yang merasa yakin sudah mengetahui segalanya. Mungkin kita pernah mengalami sebuah keberhasilan yang kita tidak duga sebelumnya. Kita lalui saja hambatan dalam meraih keberhasilan itu, seakan tidak mengetahui kalau ada hambatan-hambatan. Orang semacam ini bukanlah orang yang beruntung, mungkin bukan juga seorang pemberani, tetapi bisa jadi ia adalah seorang yang kreatif. Orang kreatif dipengaruhi oleh nalar divergen. Mencoba saja segala kemungkinan tanpa mesti mempertimbangkan tingkat keberhasilannya. Ia bukan orang yang fokus, mesti menetapkan beberapa kemungkinan strategi sebelum menghadapi berbagai hambatan. Hal ini pernah dilakukan oleh Thomas Alfa Edison. Di usianya yang masi...

Surat-Surat Jassin [3]

Pada tahun 1895 di Belgia, Paul Otlet dan Henri la Fontaine pertama kali memperkenalkan istilah dokumen. Keduanya menggunakan istilah document sebagai bentuk dari aktivitas pencatatan setiap buku yang akan diterbitkan kala itu. Secara harfiah, dokumen berasal dari bahasa Latin, docere atau documentum yang berarti mengajar atau pelajaran. W.J.S. Poerwadarminta di Kamus Umum Bahasa Indonesia (2007) menuliskan, dokumen adalah sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat dipakai sebagai bukti atau keterangan (seperti akta kelahiran, surat nikah, surat perjanjian), sedangkan untuk aktivitas pemberian atau pengumpulan bukti-bukti dan keterangan (seperti kutipan-kutipan dari surat kabar dan gambar-gambar) disebut sebagai dokumentasi. Sederhananya seperti ini, dokumen dikategorikan sebagai kata benda, sedang aktivitasnya adalah medokumentasikan. Mengenai bidang pendokumentasian di Indonesia, tidak banyak manusia Indonesia yang serius menggeluti bidang ini. Satu dari sekian manusia lang...